May 30 2008

Sensasi Blue

Published by budiono under kolomsiana

Tahun 1853 melejit sebuah sensasi dasyat yang menggetarkan dunia. Sensasi itu bernama Blue Jeans. Berlabel Levi’s. Poros Blue Jeans bergerak cepat. Dalam waktu singkat ia menjadi kultur global. Orang dibikin keranjingan. Daya setrumnya menebar ke seluruh penjuru dunia. Cihampelas Bandung jadi monumen wabah Blue Jeans di Indonesia.

Yang tidak ketahuan kapan berawalnya, adalah Blue Film. Sensasi global yang awet. Di seluruh penjuru dunia, barang yang satu ini diburu orang orang untuk ditonton. Diburu aparat untuk dimusnahkan. Lapal-lapak di Glodok sana segera gulung tikar ketika ada razia. Razia berlalu lapak buka lagi. Blue Film dalam keping DVD pun kembali diperdagangkan. Hanya enam ribu perak saja. Murah.

Tahun lalu sebuah produsen obat di Indonesia meluncurkan sebuah sensasi baru. Namanya Blue Moon. Anda, kaum lelaki, khususnya yang berumur 40 tahun ke atas, dijamin tidak akan loyo lagi. Cukup menelan satu kapsul, dalam tempo 3-4 jam saja bakal segera menjadi laki laki dasyat. Begitulah iklan Blue Moon. Sensasi instan. Percaya? Silakan coba sendiri.

Sensasi Blue yang paling gres adalah Blue Energy. Bukan sulap bukan sihir. Air laut konon bisa diubah menjadi energi baru semacam BBM. Penemunya, sebagaimana ramai diberitakan, adalah orang Nganjuk Jawa Timur bernama Joko Suprapto. Blue Energy menebar magnet. SBy konon sangat tertarik. Sensasi Blue Energy membakar cepat ranah publik.

Penemu Blue Energy tiba tiba dinyatakan hilang. Rumahnya dijaga tentara. Pangdam ikut ambil bicara. Staf khusus presiden dikait-kaitkan. Aroma klenik berbaur aroma penipuan dikemas dalam gosip Blue Energy. Ada yang konon merasa tertipu. Sensasi yang jauh dari produktif alias buang energi. Dagelan ataukah pertanda kita sedang menjadi bangsa yang sakit? Entahlah!

2 responses so far

May 15 2008

Tirto Adhi Soerjo dan SMS Rhoma Ria

Published by budiono under Media

Kamis (15/5/2008) pagi saya menerima SMS dari Rhoma Ria. Ria adalah panitia yang mengundang saya sebagai pembicara dalam acara “Launching dan bedah buku: Seabad Pers Kebangsaan dan Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia. SMS dari Ria itu sangat mengagetkan, sekaligus membuat saya takut. Takut ditertawakan banyak orang.

Begini isi SMS itu: Salam. Bpk pada dasarnya kami memilih bapak sebagai pembicara karena posisi bapak mirip dengan Tirto Adhi Soerjo. Pak Budiono mampu dan berani mengambil suatu sikap dan perubahan dari pers cetak ke cyber/internet. SMS itu kemudian saja jawab: Sungguh saya tersanjung sekali. Namun menyamakan posisi saya dengan bapak pers nasional itu sungguh tidak layak lho. Perjuangan Bapak Pers kita itu sungguh luar biasa. Saya tidak ada artinya.

Tirto Adhi Soerjo (TAS) sebagaimana saya kutip dari buku “Sang Pemula” yang ditulis sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, adalah cucu Bupati Bojonegoro (Jawa Timur), RMT Tirtonoto. TAS lahir di Blora pada 1880 dengan nama kecil Djokomono. Kelak di kemudian hari, sepak terjang TAS dalam tataran kebangsaan sangat luar biasa. TAS disebut sebagai perintis pers Indonesia.

Dialah pribumi pertama yang secara luar biasa berani menerbitkan “Medan Prijaji”, “Poetri Hindia” dll. TAS adalah jurnalis ternama pada masa Hindia Belanda. Banyak kalangan yang menyatakan, TAS adalah Bapak Pers Nasional. TAS juga dikenal sebagai pendiri organisasi moderen pertama: Sarikat Prijaji dan kemudian mendirikan organisasi dan gerakan sekaligus: Sarikat Dagang Islamiyah (SDI). SDI inilah yang kelak berkembang menjadi Sarekat Islam. Luar biasa.

Maka, sungguh tidak pantas menyandingkan posisi saya dengan orang sehebat TAS. Selepas dari majalah Tempo, dan kemudian harus mengalami pahitnya pembreidelan “Berita Buana” dan “Tabloid Detik” oleh rezim Orde Baru, saya menyoba keberuntungan dengan penjadi petani internet. Berkat keberuntungan dan momentum yang pas, detikcom bisa memberi sedikit warna bagi dunia pers di Indonesia.

Kalau pun ada kesamaan saya dengan TAS, hanyalah soal kebetulan secara geografis. Saya dan TAS menjalani masa bocah di Bojonegoro. TAS menjalani bangku Sekolah Dasarnya di Bojonegoro pada 1902. Sedangkan saya duduk di bangku sekolah dasar di Bojonegoro pada tahun 1970-an. Hanya itu.

18 responses so far

May 07 2008

Dunia Hitam Didi Nugrahadi

Published by budiono under Gaya Hidup

Meski bertetangga di Pamulang, saya baru mengenal Didi Nugrahadi (DN) pada 1995. Adalah Wienardi (wartawan Swa yang kemudian bergabung ke majalah Editor) yang mengenalkan saya dengan DN. Dua pangeran (baca: pengeran) Solo itu bertandang ke rumah saya. Kalau ditelusuri, perkenalan itulah yang sebenarnya menjadi titik awal dari kelahiran detikcom.

Singkat kata kami (Abdul Rahman (AR), Budiono Darsono (BDI), Didi Nugrahadi (DN) dan Yayan Sofyan (YS) akhirnya melahirkan detikcom pada 1998. Tanggal kelahirannya pas dengan tanggal lahir Yayan Sofyan, 9 Juli. Tepatnya dipas-paskan. Saya, AR dan YS adalah wartawan. Sedangkan bagi Pangeran Solo yang bernama DN, dunia kewartawan tentu sesuatu yang baru. Bergaul dengan kami, artinya DN mulai memasuki dunia hitam (baca: kriminal).

Dunia hitam (kriminal)? Ya. Tapi bukan lantaran DN ditugasi meliput kriminalitas. Lalu apa? Begini ceritanya. Suatu hari kami makan di Hotel Hilton. AR yang membayari. Dalam perjalanan pulang menuju markas kami di Lebakbulus DN mencak-mencak. “Ini kriminal,” kata DN. “Mahal sekali,” sergahnya.

Mahalnya ongkos makan di hotel itulah yang dicap DN sebagai tindakan kriminal. Maklumlah, Pangeran Solo itu terbiasa makan sego kucing dan tengkleng. Beberapa bulan kemudian, DN berubah. Ia mulai terbiasa keluar masuk hotel atau kafe-kafe yang tergolong mahal. DN sudah lupa dengan cap kriminalnya. “Kriminal ini,” begitu kenang DN setiap kali selesai makan di Hotel atau kafe. Dunia hitam memang bikin gayeng.

Saya dengar, DN kini masih mengarungi dunia hitam. Bukan keluyuran di hotel atau kafe. Sebab DN kini sedang puasa makan di tempat mahal. Ngirit, bisik teman bisnisnya. “Kalau sama istri dia emang ngirit,” begitu kata saya. Dunia hitam yang saya maksud ini, ya seperti komentar DN sendiri di blog saya, soal rambut. Rambut DN masih hitam tam. Kata Abi, rajin dicat.

Sedangkan saya, sudah keluar dari dunia hitam. Rambut sudah memutih. Saya tidak berani mengecat. Menurut fatwa Uztad Imam Suyono (mantan detikcom yang kini berbisnis sendiri) mengecat rambut menjadi hitam itu haram hukumnya. Kalau catnya merah, kuning atau putih, malah tidak apa apa. Akur.

Bagi saya, rambut kepala menjadi putih, tidak masalah. Oke saja. Yang saya senang, rambut di bagian lain masih hitam tam, tidak ikut memutih. Itu artinya, di bagian lain-lain itu masih normal dan Masih sering bersenang-senang. Betapa merisaukan kalau rambut di bagian lain yang vital itu memutih juga. Nah, apakah rambut DN di bagian lain masih hitam tam? Saya tidak tahu. Melihat sumrigahnya DN, saya kira dia masih berada di dunia hitam. Rambut putih di bagian lain bikin dag dig dug…!

17 responses so far

May 05 2008

Nenden Nyantai, Hasan Bla..Bla…Bla…

Published by budiono under Media

Dalam sebuah kesempatan Nenden melontarkan pertanyaan kepada saya. Mengapa saya memoderasi komentar di blog saya. Pertanyaan Nenden ini disampaikan dalam obrolan nyantai. Lain halnya dengan Hasan Yahya. Dengan retorika plus teaterikal yang menawan, Hasan langsung membabat habis saya. “Kenapa sih harus dimoderasi,” kritik Hasan.

Oh iya, saya perkenalkan dulu, Nenden itu mantan wartawan detikcom. Setelah malang melintang, lulusan UGM ini kini menjadi salah satu pengelola situs resmi kepresidenan: www.presidensby.info. Hasan Yahya juga pernah berkiprah di detikcom. Lulusan Inggris ini pinter dan punya pergaulan luas. Hampir semua pelaku bisnis internet kenal Hasan.

Kepada mereka — tentu saja secara terpisah — saya jelaskan, saya memoderasi karena saya takut, ada komentar negatif yang ditujukan ke orang lain. Singkat kata, saya tidak mau ada orang menjelek-jelekan orang lain melalui blog saya. Kalau komentar itu menjelek-jelekan saya, itu tidak masalah. Saya toh sudah biasa untuk urusan yang satu ini.

Di blog milik orang yang saya kenal, pernah atau bahkan banyak, komentar miring yang ditujukan ke alamat detikcom. Bahkan sampai ada yang memampus-mampuskan detikcom segala. Marahkan saya? Tidak. Saya berlapang dada. Malahan saya mengacungkan jempol kepada blog rekan saya itu. Dia memiliki keberanian, sementara saya tidak.

Nenden bisa memahami. Bahkan Nenden bercerita, ia pernah kebanjiran komentar yang tidak patut, sehingga dengan terpaksa, Nenden menutup sementara menu komentar. Sebaliknya, Hasan tetap saja tidak bisa menerima alasan saya. Hasan tetap saja bla..bla…bla…….”Tidak demokrasi,” tandas Hasan.

Tidak demokrasi? Weleh. Betapa murahnya harga sebuah demokrasi kalau hanya cukup dengan tidak memoderasi komentar di blog. Tidak perlu harus mengorbankan nyawa mahasiswa Trisakti sebagaimana yang terjadi dalam proses reformasi. Atau nyawa Marsinah!

Begitulah, namun saya suka kok dengan bla…bla…blanya Hasan. Bla..bla…bla adalah bagian dari demokrasi yang murah. Bla..bla…bla….!!!!

31 responses so far

Apr 29 2008

Sigit Widodo, Blontank Hingga Shinta Sinaga

Published by budiono under detikcom

Berapa jumlah orang yang sudah meninggalkan detikcom? Banyak. Itulah warna tersendiri dalam perjalanan 10 tahun detikcom. Mengapa mereka keluar? Banyak sebabnya.

Ada yang merasa gajinya kekecilan, ada yang ingin pindah karir, ada yang mendapat tantangan lebih besar di luar detikcom, ada yang sudah merasa sumpek, ada yang merasa tidak naik naik pangkat, dan tentu saja ada yang merasa sakit hati. Seribu satu alasanlah. Dan menurut saya itu hal yang lumrah.

Toh demikian, saya merasa sangat beruntung. Mereka, teman teman saya itu, hingga saat ini masih tetap berhubungan baik dengan saya. Ada Sigit Widodo yang kini mengepalai divisi penerbitan buku Femina Group, ada Mumu yang asyik menjadi blogger, ada Wiwied yang menjadi dosen di Unair Surabaya. Yogi, yang ngepos di Istana Presiden, kini memimpin perusahaan di bidang periklanan. Rido, teman akrab Sigit yang sama sama Lulusan Trisakti, kini bekerja di Malaysia.

Danang Sanggabuana bekerja di MNC. Ngetop. Wajahnya sering muncul di layar kaca. Dari situlah saya bersua dengan dia. Saya sudah lama tidak melakukan kontak dengan pria asal Jember itu. “Biasalah, kalau sudah ngetop dan kaya, lupa teman,” begitu ujar kolega Danang.

Ananda yang kini di liputan6 SCTV sesekali masih ber-SMS-an dengan saya. Happy bersua dengan saya dalam komentar di blog. Yang saya dengar, Happy kini hidup bahagia di Semarang bersama istri dan anaknya. Kabarnya Happy sudah banting haluan, tidak lagi berkiprah di bisnis IT dan sukses. Dan tentu saja, yang susah saya lupakan adalah Blontank.

Senin, 28 April 2008, saya kedatangan tamu: Inung. Itu jagoan saya di IT. Dia sudah bekerja di tempat lain. Dari selentingan yang saya dengar, gajinya sudah berlipat-lipat. Alhamdullilah.

Huiihhh …berseliweran juga ingatan saya pada Jono, Ulfi, dan tentu saja Shinta Sinaga. Kumpul kumpul yuk…!!!

40 responses so far

Apr 07 2008

Burhan, Obama dan Kompor

Published by budiono under Media

Senin (7/4/2008) saya menelepon Burhan Sholihin. Burhan adalah wartawan Koran Tempo. “Saya sangat senang membaca kolom Anda di Koran Tempo,” begitu kata saya kepada Burhan.

Kolom tetap Burhan itu bertajuk “Email dari Velbak”. Hadir seminggu sekali setiap hari Jumat. Tulisan Burhan berjudul “Obama dan Kampanye Web 2.0″ di edisi Jumat 4 April 2008, memberi inspirasi bagi saya untuk mereview situs pribadi www.bangakbar.com.

Kepada Burhan — ini bukan basa basi — juga saya katakan, tulisan soal Web 2.0 Barack Obama itu sangat bagus. Tulisan Burhan itu sangat menjadi referensi bagi siapa saja yang berniat membuat situs.
Tokoh-tokoh politik, ekonomi atau tokoh di bidang apa di Indonesia, perlu merujuk tulisan Burhan itu sebelum membangun situs. Selebihnya kemudian mengamati www.barackobama.com. Tak apalah meniru. Syukur lebih kreatif.

Toh, di era internet ini, yang namanya orsinal 100% hampir tidak ada. Namun kreatifitas tetap penting. Jurus ATM alias Amati Tiru dan Modifikasi bisa diterapkan. Jangan sekadar mengeterapkan Amati dan Tiru saja. Modifikasi penting dilakukan.

Kepada Burhan juga saya katakan, kalau saja situs Tempo dikelola dengan merujuk pada tulisan Burhan itu, pasti situs Tempo akan luar biasa hasilnya. “Ah saya ini kan cuman tukang kompor,” begitu jawab Burhan merendah.

Kompor yang tak pernah kehabisan elpiji! Ya kan?

4 responses so far

Mar 25 2008

Gagah Takut Lebih Gendut

Published by budiono under Gaya Hidup

“Saya gak mau sering-sering ke kantor. Takut jadi lebih gendut,” begitu kata rekan saya, Gagah Wijoseno. Si gede lulusan Fakultas Psikologi UGM itu memang sudah tergolong bertubuh subur. Gagah dijuluki Famili 100, alias berbobot 100 Kg.

Ketakutan Gagah menjadi lebih gede lagi memang beralasan. Sebagian rekan-rekan wartawan detikcom, begitu ditarik ke kantor, menjadi penulis, dua tiga bulan pertama yang menonjol, adalah berat badannya. Menjadi lebih gemuk.

Pertama, rekan rekan menjadi lebih sering duduk. Jauh berbeda dibanding saat di lapangan. Mobilitas yang tinggi, bergerak cepat dari satu lokasi ke lokasi peliputan lain, cukup menguras energi. Begitu bertugas di kantor, tingkat stres menjadi lebih tinggi, kerja banyak duduk. Kalori tak banyak terpakai.

Kedua, ini yang sudah dihadapi, banyak makanan di kantor. Apalagi kalau ada yang baru pulang dari luar negeri atau luar kota. Mulai dari coklat sampai roti memenuhi meja meja di kantor. Dan yang terlihat adalah teman teman mengunyah tanpa henti.

Saya yang sudah tergolong di atas 40 tahun, tentu saja tidak terlalu berani seperti rekan rekan saya yang masih muda. Soal berebut coklat, roti bertabur keju, atau pizza, saya mengalah saja. Saya memilih pecel atau irisan semangka saja.

10 responses so far

« Prev - Next »