• 27

    Nov

    Duwet di Bibir Generasi Anggur

    Sebagian orang menyebut Duwet. Ada juga Juwet. Sebagian lagi menyebutnya Jamblang. Masa kecil orang yang kini berusia 40 tahunan ke atas, makan Duwet itu bisa jadi hal yang biasa. Pada 1970-an Duwet sangat populer. Kini buah itu kian langka dan makin terlupakan. Seperti apa Duwet? Bentuknya lonjong. Warnanya hitam kemerahan. Ada yang merah kehitaman. Mirip buah anggur. Duwet rasanya agak sepet. Ada manisnya. Ada asamnya. Nano-nano gitu. Ada orang yang makan Duwet dengan sedikit garam. Bahkan ada yang disertai sedikit terasi. Enak katanya. Tapi saya belum pernah mencoba makan Duwet dengan terasi. Duwet yang kini sulit dicari di pasar atau toko buah itu, Minggu (27/11) pagi meramaikan rumah saya. Adalah istri saya, Hana, yang beberapa tahun lalu menanam pohon Duwet di halaman belakang ruma
  • 25

    Nov

    Dan Saya pun Terhindar Jadi Anak Buah Butet Kartaredjasa

    Juli 1982. Saya lupa tanggal tepatnya. Saat itu saya memenangi festival teater antarkampus di Yogya. Festival itu berlangsung di gedung Senisono. Saya dan lawan main saya, Gatot, membawakan naskah “Jubah Jubah” karya Gentong HSA. Usai pesta kemenangan, saya memutuskan berhenti berteater. Saya mau jadi wartawan. Lalu apa kaitannya dengan Butet Kartaredjasa? Begini. Lewat tengah malam, di luar udara mulai dingin. Namun suasana di kantin Senisono justru kian hangat. Pesta kemenangan kami rayakan dengan teh poci. Akhirnya saya berhasil membuktikan keaktoran saya. Horeeee!!! Di tengah keriangan, Mahjudin Sueb, seorang penyair menghampiri saya. Mahjudin kondangnya dikenal sebagai penyair IKIP. Ia memang kuliah di Fakultas Sastra Indonesia IKIP Yogya. “Malam ini kamu memang ju
  • 24

    Nov

    Eks Tempo, Eks SurabayaPost dan Alumni Detik

    Teman-teman yang dulu pernah bekerja di Majalah Tempo, lebih suka menyebut dirinya “Eks Tempo” ketimbang “Alumni Tempo”. Saya termasuk salah satu “Eks Tempo” itu. Katanya sih, alumni lebih terkait dengan dunia akademi. Lagi pula, “Eks Tempo” itu keluar bukan karena “Lulus” tapi karena berbagai faktor. Ada yang pindah kantor, ada yang pensiun, ada yang karena korban breidel. Mungkin ada pula yang karena dikeluarkan (moga-moga yang ini tidak ada). Begitulah. “Eks SurabayaPost” demikian grup Facebook teman-teman saya yang dulu bekerja di Harian Sore Surabaya Post. Alasan menggunakan “Eks” bukan “Alumni” idem dengan alasan “Eks Tempo”. Mereka jadi “Eks SurabayaPost” karena
  • 23

    Nov

    Menutup Ompong, Pilih Implan atau Gigi Palsu

    Hari ini, 4 Hari sudah gigi depan ompong sudah. Beruntung, sudah mendapat perawatan yang bagus dari sebuah klinik spesial gigi di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Tinggal memutuskan, memakai gigi palsu atau implan. Senin (21/11) lalu, sisa gigi yang patah dioperasi. Dicabut sudah. Meski anestesi-nya lokalnya bagus, toh deg-degan juga. Alhamdullilah, proses pencabutan sisa gigi itu berlangsung mulus. Tak terasa sakit. Bahkan, seusai pencabutan, saya bertahan tidak meminum obat pereda rasa sakit. Oh iya, sedikit cerita aja, gigi saya bagian depan itu patah, saat saya menggigit tulang cakar ayam di Resto Din Tai Fung, Minggu (20/11) petang. Bukan tulang ayam yang kelewat keras, tapi gigi saya yang sepertinya sudah rapuh. Maklum, itu gigi tidak sepenuhnya asli. Separuh gigi itu adalah
  • 22

    Nov

    Artis Tong Setan Itu Telah Bubar

    Suatu hari detikcom mengeluarkan kaos baru. Untuk dijual dan dibagikan gratis. Saya dijadikan model promosi. Sesi pemotretan mendadak. Main tembak. Saya tidak sendiri. Ada beberapa teman teman detikcom dilibatkan. Cewek cewek gitu. Mereka kemudian disebut artis Tong Setan. Satu demi satu teman teman yang ikut sesi pemotretan itu sudah dan akan meninggalkan detikcom. Toh demikian kami masih berhubungan baik. Baik lewat BBM maupun twiteran. Sesekali juga ketemuan, sambil makan-makan. Mulai dari yang paling kiri dari foto. Namanya Andi Yuyie. Asli Makassar. Saat ini masih di bagian marketing detikcom. Bulan depan dia akan cabut, entah pindah ke mana. Rahasia, kata Yuyie yang ngakunya sudah tidak jomblo lagi. Di sebelah Yuyie ada Amel. Amel sepertinya satu-satu artis Tong Setan yang masih ad
  • 21

    Nov

    Penjinak Asam Lambung: Alpukat Dipadu Yakult

    Menderita maag? Asam lambung kumat? Rasanya nano nano. Pokoknya gak enak banget lahir dan bathin. Saya penderita itu sejak 2001. Sempat 3 minggu dirawat di RSPI. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, relatif jarang kambuh berkat ramuan sederhana nan enak. Yang paling gres adalah memadukan buah Alpukat dengan Yakult. Terasa aneh. Tapi boleh juga kok. Setengah buah Alpukat dikerok atau dipotong-potong, sesuai selera saja. Bukan dijus ya! Setelah itu taruh Alpukat di mangkok dan guyurlah dengan sebotol Yakult dingin. Makanlah. Nyam nyam. Enak lho. Gampang dan enak. Resep ini dipasok oleh teman istriku, Hana. Temannya tinggal di Singapura. Dan dalam beberapa hari ini, setiap pagi dan malam saya menikmati semangkok Alpukat dan Yakult. Lambung terasa adem dan nyaman. Resep sebelumnya untuk
  • 20

    Nov

    Cakar Ayam itu Membuat Gigiku Patah dan Ompong

    Kletak. Ada sesuatu yang terasa aneh di mulutku saat menggigit tulang cakar ayam itu. Jiahhh. Ternyata benar. Gigiku rompal alias patah. Itu memang bukan gigi asli. Gigi palsu yang sudah berumur 14-an tahun (kenapa saya pakai gigi palsu, nanti akan saya ceritakan tersendiri). Letaknya pas di depan sendiri. Kalau merenges, kelihatan ompongnya. Jadi untuk sementara, aku berusaha untuk tidak merenges dulu. Rompalnya gigi palsu itu terjadi di Restoran Din Tai Fung, PIM2 pada Minggu (20/11/2011) sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu aku makan bersama istriku, Hana, anakku Bening dan ibuku. Gigi itu rompal setelah menggigit cakar ayam. Tentu bukan salah makanan lezat yang tulangnya empuk itu. Kesalahan terletak pada gigi palsuku yang sudah terlalu berumur. Atau mungkin aku terlalu bernafsu menggigi

Author

Saya Budiono Darsono, salah satu founder detikcom. Founder yang lain adalah Abdul Rahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sofyan. Saya lahir di Semarang, 1 Oktober 1961.

Follow Me