• 27

    Nov

    Duwet di Bibir Generasi Anggur

    Sebagian orang menyebut Duwet. Ada juga Juwet. Sebagian lagi menyebutnya Jamblang. Masa kecil orang yang kini berusia 40 tahunan ke atas, makan Duwet itu bisa jadi hal yang biasa. Pada 1970-an Duwet sangat populer. Kini buah itu kian langka dan makin terlupakan. Seperti apa Duwet? Bentuknya lonjong. Warnanya hitam kemerahan. Ada yang merah kehitaman. Mirip buah anggur. Duwet rasanya agak sepet. Ada manisnya. Ada asamnya. Nano-nano gitu. Ada orang yang makan Duwet dengan sedikit garam. Bahkan ada yang disertai sedikit terasi. Enak katanya. Tapi saya belum pernah mencoba makan Duwet dengan terasi. Duwet yang kini sulit dicari di pasar atau toko buah itu, Minggu (27/11) pagi meramaikan rumah saya. Adalah istri saya, Hana, yang beberapa tahun lalu menanam pohon Duwet di halaman belakang ruma
  • 21

    Nov

    Penjinak Asam Lambung: Alpukat Dipadu Yakult

    Menderita maag? Asam lambung kumat? Rasanya nano nano. Pokoknya gak enak banget lahir dan bathin. Saya penderita itu sejak 2001. Sempat 3 minggu dirawat di RSPI. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, relatif jarang kambuh berkat ramuan sederhana nan enak. Yang paling gres adalah memadukan buah Alpukat dengan Yakult. Terasa aneh. Tapi boleh juga kok. Setengah buah Alpukat dikerok atau dipotong-potong, sesuai selera saja. Bukan dijus ya! Setelah itu taruh Alpukat di mangkok dan guyurlah dengan sebotol Yakult dingin. Makanlah. Nyam nyam. Enak lho. Gampang dan enak. Resep ini dipasok oleh teman istriku, Hana. Temannya tinggal di Singapura. Dan dalam beberapa hari ini, setiap pagi dan malam saya menikmati semangkok Alpukat dan Yakult. Lambung terasa adem dan nyaman. Resep sebelumnya untuk
  • 7

    May

    Dunia Hitam Didi Nugrahadi

    Meski bertetangga di Pamulang, saya baru mengenal Didi Nugrahadi (DN) pada 1995. Adalah Wienardi (wartawan Swa yang kemudian bergabung ke majalah Editor) yang mengenalkan saya dengan DN. Dua pangeran (baca: pengeran) Solo itu bertandang ke rumah saya. Kalau ditelusuri, perkenalan itulah yang sebenarnya menjadi titik awal dari kelahiran detikcom. Singkat kata kami (Abdul Rahman (AR), Budiono Darsono (BDI), Didi Nugrahadi (DN) dan Yayan Sofyan (YS) akhirnya melahirkan detikcom pada 1998. Tanggal kelahirannya pas dengan tanggal lahir Yayan Sofyan, 9 Juli. Tepatnya dipas-paskan. Saya, AR dan YS adalah wartawan. Sedangkan bagi Pangeran Solo yang bernama DN, dunia kewartawan tentu sesuatu yang baru. Bergaul dengan kami, artinya DN mulai memasuki dunia hitam (baca: kriminal). Dunia hitam (kr
  • 25

    Mar

    Gagah Takut Lebih Gendut

    “Saya gak mau sering-sering ke kantor. Takut jadi lebih gendut,” begitu kata rekan saya, Gagah Wijoseno. Si gede lulusan Fakultas Psikologi UGM itu memang sudah tergolong bertubuh subur. Gagah dijuluki Famili 100, alias berbobot 100 Kg. Ketakutan Gagah menjadi lebih gede lagi memang beralasan. Sebagian rekan-rekan wartawan detikcom, begitu ditarik ke kantor, menjadi penulis, dua tiga bulan pertama yang menonjol, adalah berat badannya. Menjadi lebih gemuk. Pertama, rekan rekan menjadi lebih sering duduk. Jauh berbeda dibanding saat di lapangan. Mobilitas yang tinggi, bergerak cepat dari satu lokasi ke lokasi peliputan lain, cukup menguras energi. Begitu bertugas di kantor, tingkat stres menjadi lebih tinggi, kerja banyak duduk. Kalori tak banyak terpakai. Kedua, ini yang suda
-

Author

Saya Budiono Darsono, salah satu founder detikcom. Founder yang lain adalah Abdul Rahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sofyan. Saya lahir di Semarang, 1 Oktober 1961.

Follow Me