• 27

    Nov

    Bahasa Inggris Saya Setaraf Steven Gerrard. Sialan!

    ‘I Name… Eh Me Name Budiono’, Kata saya. Kontan saja ucapan saya dalam bahasa Inggris itu jadi bahan tertawaan teman-teman saya yang lain. ‘My name’, demikian koreksi Bu Marty Morisson. Itulah kisah berapa belas tahun lalu, ketika saya berguru Bahasa Inggris dengan Bu Marty. Bu Marty warga Negara Australia. Dia adalah istri mantan Dubes Australia untuk Indonesia, Bill Morisson. Bill kemudian menjadi Menteri Pertahanan Australia. Hingga saat ini, jika bertemu dengan teman-teman lama saya itu, ‘I name… Me name’ itu selalu menjadi bahan olok-olok. Meski saya tahu, beberapa dari mereka, bahasa Inggrisnya jauh lebih buruk ketimbang saya. Tak apalah. Nah, dalam sebuah kesempatan saya pergi ke London, saya menginap di rumah sahabat saya, Dalipin
  • 14

    Nov

    "Nyonya-Nyonya Istana" Bisakah Saya Menahan Ngakak?

    Mas Budi ikut main di pentas “Nyonya-Nyonya Istana ya! ” begitu kata Agus Noor, penulis cerita termasyur di negeri ini, beberapa bulan lalu. Kapan tepatnya saya lupa. Ajakan Agus Noor itu saya iyakan saja. Spontan. Saya pikir itu hanya guyonan. Bulan demi bulan berlalu. Sampailah sekitar 40 hari lalu, Agus Noor mengirim DM Twitter ke saya. Bunyinya begini: Mas pentas “Nyonya-Nyonya Istana 16-17 Nov 2012 ya. Siap main ya! Wah! Kaget juga saya dibuatnya. Ternyata Agus Noor serius. Tapi saya tak bisa mundur lagi. Deg-degan? Iya sih. Maklumlah, 30 tahun sudah saya tak pernah lagi main teater. Pertama kali manggung pada 1979 bersama Teater O. Waktu itu kami melakonkan “Setan Dalam Bahaya” Karya Alexander Mesir. Pentas berlangsung di Bojonegoro, Jawa Timur. Terak
  • 3

    Dec

    Lahir Sebagai Budiman, Lalu Diubah Jadi Budiono

    Begitu mbrojol, cenger, oek oekkk, oleh bapak, Darsono, saya dinamai Budiman. Ya Budiman. Budiman tok tanpa embel embel lagi. Sehari kemudian, saya punya nama baru: Budiono. Untungnya, belum sempat selamatan bubur merah. Siapa mengubah nama saya? Saya dilahirkan pada Subuh, 1 Oktober di rumah sakit Mardi Waluyo di Jl Pandanaran, Semarang. Tahun kelahiran sengaja saya simpan, agar tidak terkesan sudah tuo. Siapa tahu juga nantinya saya akan bikin quiz, yang bisa menebak tahun kelahiran saya dengan benar akan mendapatkan hadiah. Hihihi..!!! Dan saya, seperti saya sebutkan tadi, mendapat jejuluk: Budiman. Namun nama ini hanya bertahan sehari. Menurut cerita bapak saya, malam hari setelah saya lahir, ia didatangi oleh seseorang. Berbaju putih, rambut dan janggutnya juga putih. Orang tua begi
  • 1

    Dec

    Jurus Ciamik Selesaikan Problem Buah Simalakama

    Di makan bapak mati, tidak di makan ibu yang mati. Itulah buah simalakama. Lalu bagaimana agar bapak dan ibu tidak mati? Gampang. Jual saja buah itu. Beres kan!
  • 30

    Nov

    Brother Pinjaman Melakoni Honor Rp 200, Makan Tempe 2 Ngaku 1

    “Mas malam ini jangan ngetik di kamar ya,” begitu pesan Sony, tetangga kamar saya di kos-kosan di Jl Bausasran, Yogyakarta. “Besok saya ada ujian,” tambah Sony pada suatu petang di pertengahan 1982. Malam itu saya pindah “kerja”. Kalau saya mengetik di kamar, pasti akan mengganggu Sony. Maklum, kamar kos kami hanya disekat dengan tripleks tipis. Suara mesin ketik merk Brother, akan sangat mengganggu konsentrasi Sony. Sony kuliah di Akademi Keuangan dan Perbankan Yogya yang berkampus di Jl Purwanggan. Pertengahan 1982 memang menjadi masa awal saya memproduksi tulisan. Bak pabrik, produksi terus digenjot. Setiap malam saya “kerja”. Mesin ketik Brother itu (Foto Ilustrasi diambil dari: indonetwork.co.id) bukan milik saya, tapi milik kakak Sony
  • 25

    Nov

    Dan Saya pun Terhindar Jadi Anak Buah Butet Kartaredjasa

    Juli 1982. Saya lupa tanggal tepatnya. Saat itu saya memenangi festival teater antarkampus di Yogya. Festival itu berlangsung di gedung Senisono. Saya dan lawan main saya, Gatot, membawakan naskah “Jubah Jubah” karya Gentong HSA. Usai pesta kemenangan, saya memutuskan berhenti berteater. Saya mau jadi wartawan. Lalu apa kaitannya dengan Butet Kartaredjasa? Begini. Lewat tengah malam, di luar udara mulai dingin. Namun suasana di kantin Senisono justru kian hangat. Pesta kemenangan kami rayakan dengan teh poci. Akhirnya saya berhasil membuktikan keaktoran saya. Horeeee!!! Di tengah keriangan, Mahjudin Sueb, seorang penyair menghampiri saya. Mahjudin kondangnya dikenal sebagai penyair IKIP. Ia memang kuliah di Fakultas Sastra Indonesia IKIP Yogya. “Malam ini kamu memang ju
  • 24

    Nov

    Eks Tempo, Eks SurabayaPost dan Alumni Detik

    Teman-teman yang dulu pernah bekerja di Majalah Tempo, lebih suka menyebut dirinya “Eks Tempo” ketimbang “Alumni Tempo”. Saya termasuk salah satu “Eks Tempo” itu. Katanya sih, alumni lebih terkait dengan dunia akademi. Lagi pula, “Eks Tempo” itu keluar bukan karena “Lulus” tapi karena berbagai faktor. Ada yang pindah kantor, ada yang pensiun, ada yang karena korban breidel. Mungkin ada pula yang karena dikeluarkan (moga-moga yang ini tidak ada). Begitulah. “Eks SurabayaPost” demikian grup Facebook teman-teman saya yang dulu bekerja di Harian Sore Surabaya Post. Alasan menggunakan “Eks” bukan “Alumni” idem dengan alasan “Eks Tempo”. Mereka jadi “Eks SurabayaPost” karena
- Next

Author

Saya Budiono Darsono, salah satu founder detikcom. Founder yang lain adalah Abdul Rahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sofyan. Saya lahir di Semarang, 1 Oktober 1961.

Follow Me