“Nyonya-Nyonya Istana” Bisakah Saya Menahan Ngakak?

14 Nov 2012

Mas Budi ikut main di pentas “Nyonya-Nyonya Istana ya! ” begitu kata Agus Noor, penulis cerita termasyur di negeri ini, beberapa bulan lalu. Kapan tepatnya saya lupa. Ajakan Agus Noor itu saya iyakan saja. Spontan.

Saya pikir itu hanya guyonan. Bulan demi bulan berlalu. Sampailah sekitar 40 hari lalu, Agus Noor mengirim DM Twitter ke saya. Bunyinya begini: Mas pentas “Nyonya-Nyonya Istana 16-17 Nov 2012 ya. Siap main ya!

Wah! Kaget juga saya dibuatnya. Ternyata Agus Noor serius. Tapi saya tak bisa mundur lagi. Deg-degan? Iya sih. Maklumlah, 30 tahun sudah saya tak pernah lagi main teater. Pertama kali manggung pada 1979 bersama Teater O. Waktu itu kami melakonkan “Setan Dalam Bahaya” Karya Alexander Mesir. Pentas berlangsung di Bojonegoro, Jawa Timur.

Terakhir kali main teater pada 1982, melakonkan “Jubah-Jubah” Karya Gentong HSA di Gedung Senisono Yogyakarta. Pentas ini meramaikan Festival Teater Antarkampus. Hasilnya, saya juara 1. Setelah itu saya berhenti dan tak pernah lagi main teater sampai sekarang ini.

Dalam “Nyonya-Nyonya Istana” produksi “Indonesia Kita” ini adalah debut saya setelah absen puluhan tahun. Campur aduk rasanya. Sutradaranya hebat: Hanung Bramantyo. Pemainnya tak kalah hebat. Ada Butet Kertaradjasa, Marwoto, Susilo Nugroho, Cak Lontong, Trio GAM dll.

Mereka yang saya sebut itu sudah tentu adalah bintang utamanya. Mereka semua aktor-aktor panggung yang hebat. Hampir di semua seri “Indonesia Kita” saya menonton. Dan aksi mereka membuat saya senantiasa ngakak. Ngakak sepuasnya.

Lalu, kalau kemudian saya ikut berada di atas pentas bersama mereka, mampukah saya menahan ngakak? Saya tak mau membayangkan. Ngakak ah, se-ngakak-ngakaknya! Hahahaha ……..


TAGS


-

Author

Saya Budiono Darsono, salah satu founder detikcom. Founder yang lain adalah Abdul Rahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sofyan. Saya lahir di Semarang, 1 Oktober 1961.

Follow Me