Brother Pinjaman Melakoni Honor Rp 200, Makan Tempe 2 Ngaku 1

30 Nov 2011

mesikbrother“Mas malam ini jangan ngetik di kamar ya,” begitu pesan Sony, tetangga kamar saya di kos-kosan di Jl Bausasran, Yogyakarta. “Besok saya ada ujian,” tambah Sony pada suatu petang di pertengahan 1982.

Malam itu saya pindah “kerja”. Kalau saya mengetik di kamar, pasti akan mengganggu Sony. Maklum, kamar kos kami hanya disekat dengan tripleks tipis. Suara mesin ketik merk Brother, akan sangat mengganggu konsentrasi Sony. Sony kuliah di Akademi Keuangan dan Perbankan Yogya yang berkampus di Jl Purwanggan.

Pertengahan 1982 memang menjadi masa awal saya memproduksi tulisan. Bak pabrik, produksi terus digenjot. Setiap malam saya “kerja”. Mesin ketik Brother itu (Foto Ilustrasi diambil dari: indonetwork.co.id) bukan milik saya, tapi milik kakak Sony, Didit namanya, yang sedang menyelesaikan skripsi. Saya meminjamnya dari Didit.

Siang hari saya cari bahan. Malam hari saya menulis. Saya menulis hingga dini hari. Paginya saya setor tulisan-tulisan itu. Dan kemudian mencari bahan tulisan lagi. Bukan berita yang saya cari, tapi kebanyakan bahan-bahan untuk menulis feature alias berita kisah. Hal-hal yang unik, seperti profil orang orang kecil yang menarik. Itu menjadi bahan yang bisa saya jual ke berbagai media. Tidak hanya itu, saya juga menulis puisi, cerpen bahkan resensi buku atau pun pertunjukan teater.

Tulisan saya kerap muncul di Harian Bernas, KR dan Mingguan Eksponen di Yogyakarta. Sesekali muncul di Harian Suara Merdeka Semarang dan Surabaya Post Surabaya. Majalah Sarinah, Zaman juga memuat tulisan saya. Di Mingguan Eskponen, saya sering baca cerpen karya Agus Noor. Bagus-bagus.

Agus Noor kini menjadi salah satu cerpernis hebat di Indonesia. Hampir setiap tahun karyanya selalu terpilih menjadi cerpen pilihan Kompas. Agus begitu konsisten bercerpen dan saya memilih konsisten menulis berita dan berhenti menulis cerpen dan puisi.

Honornya pun bervariasi. Saya masih ingat betul. Sebuah puisi di Bernas, waktu itu diharga Rp 250. Kalau tiga puisi dimuat, Rp 750. Lumayan. Satu cerpen di Eksponen mendatangkan rejeki Rp 500-Rp 750. Sebuah artikel di Suara Merdeka bisa menghasilkan Rp 1.500. Di Surabaya Post Rp 2.000. Media Jakarta memberi honor lebih tinggi, berkisar Rp 2.500 hingga Rp 4.000.

Dalam sebulan, dari hasil menulis, saya bisa mengumpulkan Rp 15.000 - Rp 17.500. Biaya hidup pada waktu itu berkisar Rp 20.000- Rp 22.500. Itu sudah termasuk bayar kos yang Rp 3.500/bulan. Hidup sangat pas bandrol. Tidak jarang, juga tong pes alias kantong kepes. Jika kepepet, seperti biasa, makan tempe dua biji, ngaku satu.


TAGS


-

Author

Saya Budiono Darsono, salah satu founder detikcom. Founder yang lain adalah Abdul Rahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sofyan. Saya lahir di Semarang, 1 Oktober 1961.

Follow Me