Dari Cak Gundul Menggigit Kepiting Jimbaran BSD 3,2 Kg

28 Nov 2011

kepitingpapua1Mari kita bicara soal kepiting. Hmmm….!!! Belum-belum sudah menelan ludah. Kelezatan daging dari binatang yang bernampilan purba ini memang tak terlupakan. Ada kepiting Prima ada pula kepiting Cak Gundul. Yang di Pasar Modern BSD sungguh menggoda. Apalagi pas yang bobotnya 3,2 Kg.

Beberapa tahun lalu, kepiting Prima, yang restonya di Comal, Pekalongan, Jawa Tengah, bak primadona dalam urusan kepiting. Pada hari biasa saja, antrean begitu panjang. Apalagi pas hari libur. Di Hari Lebaran, jangan tanya lagi. Butuh ekstra kesabaran.

Belakangan ini, Kepiting Cak Gundul mulai ngetop. Berawal dari warungnya di kawasan Pandaan, Jawa Timur. Kepiting Cak Gundul kini sudah buka cabang di Surabaya. Di Jakarta Cak Gundul mejeng di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kepiting Cak Gundul berbobot 7 Ons hingga 15 Ons. Cukup besar. Manis dagingnya. Yang spesial adalah kepiting direbus biasa, kemudian makannya dicocol sambel terasi. Hmmm uenakkk polll.

Dari Kepiting Cak Gundul, mampirlah ke Kepiting Warung Jimbaran BSD, Tangerang Selatan. Ini warung tenda biasa, bukan restoran. Buka mulai pukul 18.00 WIB. Lokasinya di parkiran Pasar Modern BSD. Warung kepiting Jimbaran dikelola Ibu Ike. Kepitingnya dipasok dari Papua.

kepitingpapua2Bobotnya? Wuihhh setidaknya 2,4 Kg hingga 3,3 Kh. Buesarrr. Kepiting lada hitam jadi andalan. Daging kepiting Papua itu, meski tidak berbumbu pun manis. Lihatlah foto dalam tulisan ini. Kepiting dalam foto itu bobotnya 3,2 Kg. Nampak sedemikian besar dibanding tangan anak cowokku yang berusia 21 tahun.

Capit kepiting itu, idiiih guede juga. Bayangkan saja kelezatannya. Jangan membayangkan kepiting itu hidup dan mencapit tangan Anda. Dijamin bukan kelezatan tapi kesakitan yang bakal Anda rasanya. Jadi, mari kita makan kepiting Papua saja. Hmmmm lezatnyaaa …!!!!!


TAGS


-

Author

Saya Budiono Darsono, salah satu founder detikcom. Founder yang lain adalah Abdul Rahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sofyan. Saya lahir di Semarang, 1 Oktober 1961.

Follow Me