Dan Saya pun Terhindar Jadi Anak Buah Butet Kartaredjasa

25 Nov 2011

butetokeJuli 1982. Saya lupa tanggal tepatnya. Saat itu saya memenangi festival teater antarkampus di Yogya. Festival itu berlangsung di gedung Senisono. Saya dan lawan main saya, Gatot, membawakan naskah “Jubah Jubah” karya Gentong HSA. Usai pesta kemenangan, saya memutuskan berhenti berteater. Saya mau jadi wartawan. Lalu apa kaitannya dengan Butet Kartaredjasa?

Begini. Lewat tengah malam, di luar udara mulai dingin. Namun suasana di kantin Senisono justru kian hangat. Pesta kemenangan kami rayakan dengan teh poci. Akhirnya saya berhasil membuktikan keaktoran saya. Horeeee!!!

Di tengah keriangan, Mahjudin Sueb, seorang penyair menghampiri saya. Mahjudin kondangnya dikenal sebagai penyair IKIP. Ia memang kuliah di Fakultas Sastra Indonesia IKIP Yogya. “Malam ini kamu memang juara Bud. Namun kamu tidak akan pernah sukses jadi aktor. Kamu itu wartawan. Kamu akan sukses jadi wartawan,” kata Mahjudin.

Di kamar kos berukuran 2 x 3 meter berdinding tripleks di Jl Bausasran, mata ini tak juga mau terpejam, hingga selepas subuh. Bukannya saya memikirkan uang kos yang sudah 2 bulan belum terbayar, melainkan merenungi wejangan Mahjudin itu.

Sejak subuh itu pula, saya memutuskan untuk berhenti berteater. Saya mau jadi wartawan. Apalagi keinginan saya menjadi wartawan sudah tertancap sejak saya masih duduk di bangku SMP di Bojonegoro, Jawa Timur. Bermula menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Dinding. Dan pagi itu meneguhkan diri saya untuk meniti karier menjadi wartawan.

Oh iya, ada satu kalimat dari Mahjudin yang begitu memotivasi saya untuk berhenti main teater. “Butet tidak akan lebih sukses jadi wartawan ketimbang kamu Bud. Tapi kalau kamu nekat berteater, kau tidak akan pernah mengalahkan Butet. Pol mentok kamu bakal jadi anak buah Butet,” begitu kata Mahjudin.

Kini 29 tahun sudah. Kata-kata Mahjudin itu terbukti berhasil menghindarkan diri saya jadi anak buah Butet. Butet Kartaredjasa, anak Pak Bagong itu, kini jadi raja monolog dan kian sukses dengan seri IndonesiaKita itu. Butet kini jadi aktor teater paling kesohor di republik ini, meski dia berasal dari wilayah monarki. Terus terang saya tidak pernah membayangkan jadi anak buah Butet.

Semoga Butet tidak membaca tulisan ini. Kalau pun membaca, paling Butet akan berkomentar dengan satu kata khasnya: Asuuuuuu..!!!!


TAGS


-

Author

Saya Budiono Darsono, salah satu founder detikcom. Founder yang lain adalah Abdul Rahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sofyan. Saya lahir di Semarang, 1 Oktober 1961.

Follow Me