Jul 01 2008
Hayo Rame Rame Bikin Media Online
Media online bakal gebyar gebyar lagi. Situasinya mirip awal 2000-an lalu. Riuh. Semua orang membuat portal, media online, atau apalah namanya. Ada yang bermodal besar, ada pula yang bermodal cekak. Ada yang serius, ada pula yang sekadar mengadu keberuntungan. Dotcom…dotcom…dotcom…..mantra yang menyihir banyak orang.
Pada 2008 ini geliat industri media online seperti bangun dari tidur panjang. Dan pemainnya, hampir semuanya datang dari kekuatan utama industri media di Indonesia. Modalnya, tentu saja tidak cekak. Puluhan dan bahkan ratusan miliar rupiah siap dikucurkan.
Ada kelompok Gramedia, MNC, Bakrie dan Tempo dikabarkan juga tidak akan ketinggalan untuk ngebut di jalur industri maya. Bahkan Telkom pun akan ikut terjun. Apa yang akan dibikin Telkom, saya belum tahu. Tapi dari bisik bisik dengan orang dalam, Telkom sedang menyiapkan industri konten secara serius. Sebuah tim khusus sudah dibentuk. Hebat!
Di depan ratusan pemilik media dalam Kongres Serikat Penerbit Suratkabat (SPS) beberapa bulan lalu di Hotel Santika, Jakarta, saya, yang diminta sebagai pembicara, secara terbuka mendorong mereka untuk memasuki bisnis online. Ceruk pasarnya terus tumbuh. Tumbuh dan tumbuh. Dan banyak segmen yang belum tergarap.
Lalu ada pemilik media yang bertanya, mengapa saya secara terbuka mendorong semua orang membuat media online, apakah detikcom tidak takut tersaingi? Jawab saya: Tidak. Detikcom butuh banyak teman dalam menggarap pasar. Stimulasi ekonomi akan tumbuh cepat apabila pemainnya banyak. Bertahun tahun, praktis detikcom sendirian menggarap pasar, mengedukasi pasar.
Pasar harus digarap ramai-ramai. Detikcom misalkan, baru mampu menggarap 100 potensi. Bayangkan kalau pemainnya 5 atau bahkan 10 media online, saya yakin ada 500 hingga 1000 potensi yang bisa tergarap. Pasar pun saya yakini akan bergeliat tumbuh. Jangan pernah takut tidak kebagian.
Apakah kemudian hasilnya akan instan? Tentu saja tidak. Dibutuhkan kerja keras, ketekunan dan sedikit keberuntungan. Wehh…sok berpetuah. Udah ah!

pertemanan dan persaingan yang memanfaatkan teman itu bedanya tipis
Berteman sekaligus bersaing, dalam bisnis disebut Co-opetition.
Memang asyik kalau di industri (apapun) pemainnya makin banyak. Artinya pelanggan (atau pembaca) mempunyai banyak pilihan. Seperti telekomunikasi, perbankan, dan masih banyak yang lainnya. Masalahnya, untuk industri yang lagi booming, problem utamanya adalah pada pasokan SDM (sumber daya manusia) yang mumpuni. Kalau di industri perbankan, kan kita tahu, “kampus” nya Citibank. Booming media cetak, kampusnya Tempo. Lha kalau booming media online? Mau nggak mau, kampusnya kan ya detik tho pak Bewok. Artinya, dalam booming media online, ya sdm detik lah yang bakal diincar. Mudah2an siap menjadi kampus media online.
Hukum pareto masih berlaku nggak ya, Mas? Pemain utama menguasai 80 persen market share, sisanya yakni 20 persen dari 1.000 potensi itu rebutan kue yang tersisa ramai-ramai?
@ vlisa: bdi kok disebut pak bewok sih? pak kumis kaleee… *gak fokus … kaboor*
“Detikcom butuh banyak teman dalam menggarap pasar. Stimulasi ekonomi akan tumbuh cepat apabila pemainnya banyak”
Ahh.. dulu saya pikir Detik bakal kelabakan karena banyak media online baru bermunculan. Tapi kalimat Bapak itu menyadarkan saya..
Saya setuju pendapat itu. Beberapa waktu lalu para pengiklan (sepertinya) susah sekali diarahkan untuk beriklan di dunia online, karena contoh nyata yang bisa diutarakan *waktu itu* cuma Detikcom. Karena media tempat beriklan nya sedikit, pengiklannya pun sedikit.
Tetapi jika nanti semakin banyak medianya, semakin banyak juga pengiklannya, dan semakin tinggi pula posisi tawar media yang berkualitas..
Begitu kah Pak Budi?
Kalau untuk media online dalam pengertian media informasi (berita) rasanya sudah cukup ya (mual juga kalo baca berita banyak-banyak, hehehe).
Mungkin yang perlu terus dimunculkan adalah situs-situs kreatif, atau aplikasi jejaring sosial.
Di Norwegia, kalau nggak salah, malah sedang booming situs tentang klub diet.
To Pak Okto : Anda sepenuhnya benar.
To Eftu : Pendapat Anda juga sangat sangat benar. Ide ide kreatif harus dimunculkan. Seperti saya sebutkan, masih banyak segmen yang belum digarap.
Buat saya, keberadaan media-media lain bagaikan mensahkan keberadaan sebuah berita. Bila ada satu berita di detik.com kemudian ada media lain yang melangsir berita sama, maka aku bisa mempercayai keberadaan berita tersebut.
Selain itu, berita-berita juga bervariasi. Misalnya, saya sampai mengecek berbagai media online untuk mendapatkan foto Avanza terbakar paling keren buat wallpaper (dasar kurang kerjaan) dan itu gak akan bisa kulakukan bila hanya ada satu media (oh ya.. yang paling keren ternyata dari foto.detik.com lho…)
maju terus, Pak!
ndoro kakung: “pak bewok mode on…pak kumis mode off…………hehehehe”………..sekarang pak tanpa bewok dan tanpa kumis mode on…………*mlayu*
sudah sadar rupanya, tidak seperti menghadapi kelahiran okezone di masa lalu
karena detik (merasa) gak punya saingan terberat sampai sekarang. jadi merasa melaju sendirian dan gak tau apa ini udah merupakan yang maksimal atau masih dibawah rata-rata
akibat lainnya (mungkin) kualitas sdm-nya juga jadi santai-santai aja, karena merasa tidak ada yang perlu disalip. biar karyawannya bisa lebih joss, maka harus ada media online lain sebagai saingan dan parameter kesuksesan sdm.
kira-kira gitu gak yah om?
Anda betul Bung Dudi. Persaingan selalu melahirkan energi positif bagi kami. Untuk Bung Biho…..gak usah dijawab ah.
jika ada saingan yang sepadan, justru performa detikcom diharapkan akan meningkat. selama ini detikcom tidak punya saingan yang selevel. awak redaksi tentu akan lebih terpacu jika ada situs lain yang menyajikan konten lebih lengkap dan lebih cepat. awak iklan juga makin berlari kencang kalau ada pesaing yang memberikan penawaran ke klien yang lebih yahud. intinya, persaingan yang sehat memang akan lebih menyemarakkan industri konten web.
makin semangat nih saya terjun di media online
Maksudnya http://kanalone.com/ kah Om? Hehe.
menurut saya, pemain-pemain besar yang disebut diatas, tidak melulu membidik tumpukan rupiah. Keuntungan fulus hanyalah bonus. Karena incaran utamanya adalah informasi yang disuguhkan bisa dilahap jutaan orang setiap harinya. Maksudnya, informasi bisa menggiring opini. Benarkah ?
setuju sama wawan, telkom dah belebih duitnya kali, jadi sekarang lebih penting bagaimana bisa mengendalikan opini masyarakat.
setuju jg dengan om bdi, makin rame persaingan makin seru, jadinya detikcom juga bakalan rajin berbenah supaya ga kalah saing. Kalo ga ada pesaing, entar iklannya gede-gede terus
Ada lagi ni om http://www.berita8.com , tambah banyak lagi kali nih selain kanalone dan lll
Kalo portal-portal yang baru muncul kan, sudah jelas toh, pesaing berat bagi mereka itu detikcom…yah paling gak terucap “kita gak bakal bisa ngalahin detikcom lah, kita cuma ingin jadi nomor 2 aja kog”
Nah menurut Mas Boedi, dari hati yang paling dalem banget, kira-kira nanti yang menjadi pesaing berat nya siapa yah Mas?
kompas.com kah, okezone, kanalone? atau inilah.com?berita8.com?
banyak yang hanya jadi pengikut (pengrajin) tapi sedikit menjadi seniman media web. bagi saya buatlah suatu yg beda dan inovasi terus.. bener gak boss???
Bang budiono, saya sekarang lagi merintis website bersegmen supranatural, mohon doa restunya. Jika berkenan kunjungilah http://www.metrogaib.com. Sukses pak Budi..
Salut buat detik.com. Maju terus…
detik kan banyak cabang nya 1 di kebon sirih,1 di kuningan,1 di kebayoran baru ups salah ngetik nih ga nyambung ma judul,ngacir….
kalo banyak ‘cabang’-nya bisa ‘mampir-sana’ & ‘mampir-sini’ donk ah…
hehehehe..
Ketekunan sudah, Kerja keras pasti untuk keberuntungan cium tangan dulu aah sama Haji BDI.
Kangen juga dengan media online nih. Kedepan merger antar 2 media online memungkinkan kok setelah booming untuk keduakali..who knows.
http://www.metrogaib.com update jadwal kunjungan nya donk Pak Abdurrahman
Salam.