Sigit Widodo, Blontank Hingga Shinta Sinaga

29 Apr 2008

Berapa jumlah orang yang sudah meninggalkan detikcom? Banyak. Itulah warna tersendiri dalam perjalanan 10 tahun detikcom. Mengapa mereka keluar? Banyak sebabnya.

Ada yang merasa gajinya kekecilan, ada yang ingin pindah karir, ada yang mendapat tantangan lebih besar di luar detikcom, ada yang sudah merasa sumpek, ada yang merasa tidak naik naik pangkat, dan tentu saja ada yang merasa sakit hati. Seribu satu alasanlah. Dan menurut saya itu hal yang lumrah.

Toh demikian, saya merasa sangat beruntung. Mereka, teman teman saya itu, hingga saat ini masih tetap berhubungan baik dengan saya. Ada Sigit Widodo yang kini mengepalai divisi penerbitan buku Femina Group, ada Mumu yang asyik menjadi blogger, ada Wiwied yang menjadi dosen di Unair Surabaya. Yogi, yang ngepos di Istana Presiden, kini memimpin perusahaan di bidang periklanan. Rido, teman akrab Sigit yang sama sama Lulusan Trisakti, kini bekerja di Malaysia.

Danang Sanggabuana bekerja di MNC. Ngetop. Wajahnya sering muncul di layar kaca. Dari situlah saya bersua dengan dia. Saya sudah lama tidak melakukan kontak dengan pria asal Jember itu. “Biasalah, kalau sudah ngetop dan kaya, lupa teman,” begitu ujar kolega Danang.

Ananda yang kini di liputan6 SCTV sesekali masih ber-SMS-an dengan saya. Happy bersua dengan saya dalam komentar di blog. Yang saya dengar, Happy kini hidup bahagia di Semarang bersama istri dan anaknya. Kabarnya Happy sudah banting haluan, tidak lagi berkiprah di bisnis IT dan sukses. Dan tentu saja, yang susah saya lupakan adalah Blontank.

Senin, 28 April 2008, saya kedatangan tamu: Inung. Itu jagoan saya di IT. Dia sudah bekerja di tempat lain. Dari selentingan yang saya dengar, gajinya sudah berlipat-lipat. Alhamdullilah.

Huiihhh …berseliweran juga ingatan saya pada Jono, Ulfi, dan tentu saja Shinta Sinaga. Kumpul kumpul yuk…!!!


TAGS


-

Author

Saya Budiono Darsono, salah satu founder detikcom. Founder yang lain adalah Abdul Rahman, Didi Nugrahadi dan Yayan Sofyan. Saya lahir di Semarang, 1 Oktober 1961.

Follow Me