Sigit Widodo, Blontank Hingga Shinta Sinaga

Berapa jumlah orang yang sudah meninggalkan detikcom? Banyak. Itulah warna tersendiri dalam perjalanan 10 tahun detikcom. Mengapa mereka keluar? Banyak sebabnya.

Ada yang merasa gajinya kekecilan, ada yang ingin pindah karir, ada yang mendapat tantangan lebih besar di luar detikcom, ada yang sudah merasa sumpek, ada yang merasa tidak naik naik pangkat, dan tentu saja ada yang merasa sakit hati. Seribu satu alasanlah. Dan menurut saya itu hal yang lumrah.

Toh demikian, saya merasa sangat beruntung. Mereka, teman teman saya itu, hingga saat ini masih tetap berhubungan baik dengan saya. Ada Sigit Widodo yang kini mengepalai divisi penerbitan buku Femina Group, ada Mumu yang asyik menjadi blogger, ada Wiwied yang menjadi dosen di Unair Surabaya. Yogi, yang ngepos di Istana Presiden, kini memimpin perusahaan di bidang periklanan. Rido, teman akrab Sigit yang sama sama Lulusan Trisakti, kini bekerja di Malaysia.

Danang Sanggabuana bekerja di MNC. Ngetop. Wajahnya sering muncul di layar kaca. Dari situlah saya bersua dengan dia. Saya sudah lama tidak melakukan kontak dengan pria asal Jember itu. “Biasalah, kalau sudah ngetop dan kaya, lupa teman,” begitu ujar kolega Danang.

Ananda yang kini di liputan6 SCTV sesekali masih ber-SMS-an dengan saya. Happy bersua dengan saya dalam komentar di blog. Yang saya dengar, Happy kini hidup bahagia di Semarang bersama istri dan anaknya. Kabarnya Happy sudah banting haluan, tidak lagi berkiprah di bisnis IT dan sukses. Dan tentu saja, yang susah saya lupakan adalah Blontank.

Senin, 28 April 2008, saya kedatangan tamu: Inung. Itu jagoan saya di IT. Dia sudah bekerja di tempat lain. Dari selentingan yang saya dengar, gajinya sudah berlipat-lipat. Alhamdullilah.

Huiihhh …berseliweran juga ingatan saya pada Jono, Ulfi, dan tentu saja Shinta Sinaga. Kumpul kumpul yuk…!!!


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

42 Responses to “Sigit Widodo, Blontank Hingga Shinta Sinaga”

  • yudhiapr Says:

    yuukkk …
    denger2 pertengahan mei nanti pada mau ‘blangkrakan’ ke ujung kulon loh .. ;)

    pak bdi ikutan juga kah ?

    ~teman akan sangat berarti begitu dia meninggalkan kita. (anonymouse)

    [Reply]

  • ulfi Says:

    Hayu mas……
    Ikut aja

    [Reply]

  • ndoro kakung Says:

    nukman luthfie kok gak disebut? veteran detik juga kan? :D

    [Reply]

  • bamby Says:

    apa rasanya yah? Baru kemaren ngumpul-ngumpul selagi njenguk jerry perasaan ude banyak bener. apalagi kumpul resmi :)

    [Reply]

  • mumu Says:

    tambahan info mas bud,

    arief shodiq setelah sempat ke global tv sebentar, sekarang di tv one. dan tentu jgn dilupkan budi santoso yg kini mengelola okezone.

    mas budi, setelah mengelola portalhr.com, saya jadi byk belajar ttg manajemen SDM, yg antara lain bahwa selama msh terjadi turnover karyawan di perusahaan yg kita kelola, artinya perusahaan kita itu sehat. detikcom saya kira telah menunjukkan diri jadi salah satu sekolah para jurnalis, setelah kompas dan tempo. mas budi mesti bangga karena para alumnus detikcom umumnya “sukses” di luar sana.

    kumpul-kumpul? yuuuuuk….siapa mau jadi panitia? di citos aja ya, yg deket rumah saya hehehehe

    [Reply]

  • budiono Says:

    Walah, mohon ampun, banyak nama nama yang memang tidak tersebut dalam tulisan saya di atas. Mohon maaf. Kalau saya sebut satu per satu, walah, panjang banget. Yang saya sebut di atas terlalu sedikit nama. Terlintas begitu saja.

    [Reply]

  • djoko Says:

    Membaca postingan Bdi ini membuat saya terhenyak sejenak. Memori di otak saya seolah meloncat ke beberapa tahun lalu. Mendadak jadi inget Ananda, yang pernah cuti kerena urusan keluarga ternyata ikut kampanye PKS.

    Arif Shodiq dengan Kaos Ramonesnya. Sigit Widodo yang selalu melakukan provokasi Indomie goreng di siang bolong saat bulan puasa. Blontank Poer yang bergaya seniman, serta Mumu dengan resensi filmnya.

    Jadi untuk postingan ini hanya ada satu kata: Laksanakan!

    [Reply]

  • suamimalas Says:

    Wuhhuuu…akhirnya kenal juga sama pemimpin punggawanya detik… :)

    [Reply]

  • blontank poer Says:

    ya wis, mari kumpul-kumpul saja.

    sebagai orang yang susah dilupakan mas budi, saya ingin setor muka (siapa tahu seiring tuntutan usia, beliau hanya ingat nama saja).

    benar kata djoko, hingga kini saya masih nyeniman. keseharian saya juga mirip dengan masa lalu, yang suka molor di bawah meja kantor hingga lepas lohor.

    mas, kapan dolan Sala maneh? aku masih pemandu wisata yang baik, lho….. (kalau cuma kangen Sala semata, bisa lihat di blog-ku yang lain: http://solo.dagdigdug.com/)

    kapan sida reunian, mas? traktir aku tiket Garuda, ya (kalau ketemunya di Jakarta).

    [Reply]

  • budiono Says:

    Weleh weleh, gak saya duga, Blontank muncul juga. Bagaimana saya bisa hanya ingat nama sama Blontank. Apa kabar bos? Nang ngendi wae saiki awakmu? Nek sido reunian, ojo kuatir, khusus Blontank aku traktir tiket Garuda PP.

    [Reply]

  • blontank poer Says:

    asyiiikkkkkkkkkk……..

    wah, tambah kangen karo kanca-kanca, nih. ayo mas, enggal diwujudake secepatnya. awakku ngerti disinggung sampeyan saka mbakyu vlisa, bos xl yang kebetulan tetanggaan di pamulang juga.

    wah, hidupku memang serba kebetulan. hepi mengenalkanku pada internet sampai aku mujur dadi wartawan detikcom, juga sampai kenal mbakyu vlisa. hehehehe….

    awakku dadi kangen para OB lebakbulus yang selalu menemaniku begadang setiap hari, berbulan-bulan sampai aku kembali menjalani hidup nyeniman: belajar seni tapi tak kunjung paham. hik..hik…….

    [Reply]

  • Happy Hanantoputro Says:

    Halo Mas Budi, Halo 10 tahun detik….

    Kerja di detikcom itu sangat nyaman: tantangan, dinamika dan relasi yang terjadi adalah sekolah mental. Industri yang relatif baru (waktu itu), tekanan kompetitor, friksi internal hanyalah “kerikil-kerikil” yang setiap hari terasa enak di kaki kita, meski awal menginjaknya terasa sakit.

    Tapi, kalau terus-terusan di sana, aku akan bakalan jadi jombli, jomblo bingung, sebutan yang sering dilontarkan Mas Budi untukku.

    Akhirnya ada yang bisa membuatku berpaling dari detikcom: seorang gadis yang 12 tahun lebih muda dariku dan aku percayakan rahimnya untuk tumbuh-kembang anakku (lho kok jadi sentimentil? hehehee…)

    Mas, kalau jadi reuni, aku ngga perlu dikirim tiket Garuda, gengsi ah. Gini-gini aku kan pengusaha gurem yang sukses. Cukup sediain aja satu president suite room di Hotel Mulia untuk anak-istriku hahahaaa….

    Semoga 10 tahun detikcom bisa menjadi pembangkit geliat industri dotcom kita, dan Indonesia pantas menobatkan BDI dan AR sebagai dotcom legend :)

    [Reply]

  • Rido Sarwono Says:

    Walah, bangga bener gue masih diinget sama Bdi, padahal engga lama lho bergabung dengan crew detikcom. pada jamannya itu kita cuma ber 4 saja, Sigit Widodo, Nurul Hidayati, Aan Hestiana D. hihihi emang dasar gue tuh orangnya gak butuh duit kata mas Bdi. jadi ya bosen trus kabur deh :P

    Mas Bdi, mau narik aku lage gak? ha ha ha. Mas Budi kok ngasih tiketnya cuma ke Blontak doang sih? buat gue mana?

    Reunian? oke deh gue insya allah datang, ada cuti panjang pertengahan mei hingga 2 Juni 2008. bisa diatur gak rien?

    Anyway, gue dikasih hotel gak Mas?

    regards

    [Reply]

  • in03ng Says:

    Sukses Detikcom!

    Wah..wah… aku angkatan ke berapa nih mas? Perasaan baru kemaren banget gabung detikcom, nggak sebanding sama punggawa-punggawa itu… Absen, mas! Ayo ngumpul! Biar tambah silaturahmi.

    [Reply]

  • Wicak Hidayat Says:

    mas.. kalo aku jadi inget Titis (salah satu yang kelewat ngga disebut juga). Soalnya titis yang mbawa aku k detik hehehe. Gimana kabarnya ya?

    [Reply]

  • trionows Says:

    kalo bisa, yg ngumpul jgn hanya para veteran dong. seperti saya, yg masih aktif di detik, merasa butuh ngumpul juga. yg penting kan liburannya, he..he…

    piss from semarang

    [Reply]

  • shinsi Says:

    Hwuaaa… terharuuu namaku disebut juga… the last but not least hehehe… dan tentu saja Shinta Sinaga mau banget “kumpul kumpul yuk…!!!” hayooo Mas, diwujudkan reuni akbarnya… udah kangeeen sama semuanya…

    [Reply]

  • HY Says:

    kapan jadinya undangannya?

    [Reply]

  • paman tyo Says:

    kalo blonthank memang nyeniman. tapi bukannya detik itu lahir karena semua foundernya seniman? :) congrats!

    [Reply]

  • nenden Says:

    hiks..mas budi lupa sama aku, boleh ikutan reuni ndak meski namanya ndak katut ? :)

    detikcom, meski cuma sebentar dan ngantornya di desa bernama Jogja, tapi kampus belajar jadi wartawan yang sebenernya bwt aku, omelan korlip yang nyaring di telinga saat itu, Om Sapto, tak terlupakan sampe sekarang. Iwan korlip nyebelin yang selalu manggil aku “Tem” gara-gara kulitku yang gosong item, bikin aku masih pengen nampol ampe sekarang hahaha piss Wan..

    bos kayak Bdi belom pernah kutemui lagi di kantor manapun, bisa sampe di kantor yang sekarang ini pun tak lepas dari jejak almamater dan sentuhan tangan mas budiono..detikcom tempat belajar, berkarya dan almamater tak terlupakan buat seorang Nenden, terima kasih..

    jadi aku boleh ikut reuni ndak mas Bud… ???

    [Reply]

  • haidir tanjung Says:

    Ga terasa usia detikcom sudah 10 tahun ya… Banyak pula kawan2 awak yg sudah hijrah. Awak pun tak banyak kenal mereka, karena memang awak terisolir di Bumi Melayu Riau yang tak kunjung Merdeka. Awak lebih familiar dengan sahabat-sahabat alam rimba, harimau dan gajah yang konfliknya tak kunjung tamat. Kalau pun tugas liputan belum pernah dikirim ke luar negeri, terkeculia dikirim ke tengah kawasan hutan belantara. Tapi itubukan berarti kita kecil hati, awak malah bangga, karena yg lain belum tentu tahu bagaimana kondisi hutan rimba, dan bagaimana nikmatnya berteman dengan masyarakat pedalaman yg tak kenal listrik.

    Namun demikian, dari sekian banyak nama2 yang disebut Mas Budi, awak ada yg kenal juga, misalnya, Mas Jono, Shinta, Umi, dan Mas Danang yg pernah datang ke Riau waktu itu tanpa seizin detikcom, he he he.

    Di usia 10 tahun detikcom, awak juga merindukan untuk ngumpul lagi di jakarta bersama grup ndeso lainnya. Bercengkrama dengan para petinggi dan repoter lainnya yang belum banyak di kenal di Jakarta sana. Satu hal lagi, kalau anak2 ndeso pada kumpul di jakarta, mohonlah disediakan balsem atau apikson ,, sebab kami2 ini ga tahan di ruang ber AC.Ember alias Muchus waktu itu sampai muntah2 karena masuk angin, sementara yg lain, pura2 bertahan…..padahal juga sudah pada mules semua,….

    [Reply]

  • budiono Says:

    Huikkk…hormat saya untuk Paman Tyo. Sungguh kehormatan disinggahin yang baurekso di jagad perbloggeran. Sukses untuk dagdigdug…kapan ngopi?

    Untuk Nenden, pengapuroku sing gede. Kalau aku gak nyebut nama Nenden bukan lantaran lali atau melupakan. Namun, kelewatan wae. Gak sempat nyebut satu per satu nama. Terlalu banyak. Soal nek kumpul kumpul, ya Nenden harus hadir. Kalau tidak, aku wegah nyopo maneh.

    For Haidir, selamat kumpul ama gajah, harimau, dan mungkin juga monyet. Awas, kalau kita makan daging monyet, dipastikan tidak akan jadi monyet. Namun kalau terlalu sering kumpul dengan monyet, bisa seperti atau malah jadi monyet…he…he…..tabik utk semuanya…!!!

    [Reply]

  • iwul Says:

    pak teman-teman di Surabaya boleh ikutan????

    [Reply]

  • Ugik Says:

    Wah, ada Pak Blontank juga to. Aku jadi ingat ketika kerja pertama kali di detikcom dan mendapat jatah meliput muktamar NU di Lirboyo Kediri yang mengantarkan KH Hasyim Muzadi menjadi Ketua PBNU.

    Waktu itu Blontank njago KH Mustofa Bisri, maklum sesama arek Jawa Tengah. Tapi, sayang prediksi Blontank meleset. Piye bos kabare, saiki kabarnya selain nyeniman, juga berprofesi juri foto ya.

    Aku tidak berani ikutan dah kemarin, soale jurinya Bos Blontank…..hi…hi hiii hiiii

    [Reply]

  • Uci Says:

    Waduh Detik dah 10 tahun ya…

    terharu dan langsung jadi inget masa lalu di detik skitar 9an tahun yg lalu, saat itu aku gabung dg detik/agra. Wahh saat itu msh sedikit pasukan dikantor. Ada Meilanie, Novi, Rahma, Nurul, Sigit W, Rido, Pak Sapto. Bagaimana rasanya seneng banget ada di kantor, pokoknya serasa berada dirumah ndiri deh, dengan suasana yg sangat2 akrab. Bdi inget gak ayo, kalo tiap pagi sarapan roti yg aku bawa…hehehe, sampe ada anggarannya khusus buat roti tawar yg tiap pagi aku bawa. Skg aku nemenin suami di Al Watan TV, KUwait City, jadi kalo mau kumpul2 gimana dong, siap traktir tiket pp gak pak kayak Blontak…

    [Reply]

  • donnybu Says:

    analisis iseng, mengapa “masih ada” yang bersedia membantu detikcom dari dalam? jawabannya bisa sbb:

    - karena terlalu nyaman di comfort zone (atau takut dengan hal yang baru, yang penuh ketidakpastian)?

    - karena cinta mati dengan dunia media online (yang tidak sekedar media online, tetapi pelopor dan terbesar di indonesia saat ini)?

    - karena gajinya cukup (atau karena gaji bukan segalanya)?

    - karena merasa berhutang budi dengan kantor?

    - karena masih banyak ilmu yang bisa digali dari kantor?

    kalau saya, saya punya alasan sendiri mengapa saya dulu keluar dari detikcom (november 2001) dan sudi masuk lagi (awal 2005). ntar saya posting di blog saya saja, hehehehe :P

    -dbu-

    [Reply]

  • nYapTo Says:

    Assalamualaikum,
    Mas Bud bisa saja ngabsen arek-arek.
    Kok banyak sekali ya yang diluar….dan (tampaknya) masih sayang sama mas Bud. Tuh ada yang namanya Nenden juga toh di detik, ndak kenal kok aku dituduh ngomelin?
    Thanks to (blon)Thank. Kapan ngeteh tape nang ngarep monumen pers yo? Eh Don, aku mlebu yang mana ya?

    [Reply]

  • blontank poer Says:

    ayo aja, Sap.
    kapan ngersakake rawuh Sala, tinggal dhawuh saja.
    apike karo Mas Bdi sekalian, nanti kuajak susur Bengawan Solo sampai rumah beliau di Bojonegoro :p

    [Reply]

  • adie Says:

    wah, blontank poer ikut koment juga ya. jadi inget sempat berpolemik di milist anak daerah dulu.. salam dari pontianak (yang terselamatkan ke jakarta).

    anyway, soal ngumpul.. ayo dunk, gak usah banyak teori kapan-kapan? :)

    [Reply]

  • wiwid Says:

    wah wah wah…..
    ga berasa ya, dah 10 th detikcom berjaya. Bdi emang boss yg nyeleneh. gaya santai tapi galak. Tapi dari Bdi-lah saya belajar banyak hal. belajar kerja, belajar semangat, belajar ndableg, belajar pinter, belajar “licin”…hehehehe. Di detikcom, saya belajar belajar dan belajar. Terimakasih detikcom, terimakasih Bdi, terimakasih teman2 semua yg sudah memberi saya banyak kenangan tak terlupakan. Berkesan banget deh kerja bareng teman2 di detikcom. Dulu sering nginep kantor Lebak Bulus gara2 mau launching portal HIBURAN dengan boss TBS yang kalem tapi tajem. Mau dong reunian…kapan nih? Ada tiket utk yg di surabaya? :)

    rgds,
    =wid=

    [Reply]

  • daeng anto Says:

    selamat ultah detik, congrats mas BDI

    @Mumu
    setuju, detikcom sudah layak bersanding bersama Tempo dan Kompas mengusung gelar “penelur” jurnalis handal.

    @donnybu
    wah ini analisis yang lebih pas dibilang “tajam” ketimbang “iseng” loh!. Anyway dulu get out dari detik krn poin yg keberapa ya?

    peace

    -cinta detik-

    [Reply]

  • » Pergi Tanpa Pesan, tapi tetap Berkesan Ardhi(net) Place Says:

    [...] Apapun alasan dia resign saya yakin itu adalah pilihan yang terbaik untuknya, dia pasti sudah memikirkannya dengan matang. Setiap org punya jalan hidup masing2, punya keinginan untuk berubah jadi yg lebih baik lagi. Epi adalah crew Detikcom (Detikinet) kesekian yang telah resign dari detikcom baca tulisan pak bos BDI [...]

  • melgan Says:

    Namanya Budiono Darsono, orang-orang suka menyebutnya Bdi atau memanggilnya mas Budi, tapi aku lebih suka memanggilnya “MBAH”

    Di komplek Stadion Lebak Bulus, itu tempat pertama kali aku lihat wajahnya. Kala itu mbah masuk kedalam kantor tempatku bekerja dengan gaya yang khas, yakni pasang muka sok cuek dan raut muka bengis. Mbah saat itu datang untuk melihat space yang nantinya akan dijadikan markas pertamanya detikcom.

    Beberapa bulan kemudian .. sungguh aku tidak menyangka, ternyata Tuhan menggariskan tanganku untuk bertemu lagi dengannya.
    Kali ini pertemuanku adalah untuk mengenal sosoknya sebagai boss untukku. Setelah aku lebih mengenal mbah, ternyata mbah itu tidak seperti yang pernah aku lihat pertama kali :-)

    Dari sekian boss yang pernah aku punya, hanya satu yang paling nyentrik, super gokil dan klo ngomong asal nyeplak tapi otaknya jempolan, ya Mbah itu!

    Walau hanya mengalami markas di Lebak Bulus dan Pondok Indah, pokoknya dari Mbah aku buanyaaak sekali dapet ilmu, termasuk ilmu ngeles …. hehehe…

    Duh … jadi kangen masa lalu beserta semua temen2ku nih …. ada Uci yang dulu selalu membawakan sarapan buat kita tapi sekarang udah di Kuwait, ada Aloy yang sekarang jadi bandar cewek cakep, ada Iqbal yang sekarang di Soroako, ada Rahma dan Eksi yang sekarang jadi guru TK, ada duo Sigit dan Rido yang seru liput kerusuhan di Jakarta, Amel dan Dodit yang ketemu jodoh di detikcom, dan ada juga mbah sepuh DN dan Kangmas Nuli.

    Ayo mbah … Kenapa harus menunggu besok, tentukan tanggal kumpul2nya detik ini juga!

    [Reply]

  • ogi Says:

    Pengen ngucapin berjuta terimakasih, Detikcom, BDI, TBS, Titis dan temen-temen di detik dah banyak membantu aku. Mulai dari menerimaku Kerja Praktek, sampe aku ikut kerja setahun dua tahun.

    Satu yang aku salut dari detikcom, (menurutku), hubungan detik dgn “mantan2″ tim nya masih erat, dan tetep saling bantu meskipun dah ga dibawah satu bendera detik.

    [Reply]

  • aLe Says:

    sory ga bisa ikutan :D halah :P

    [Reply]

  • yogi arief nugraha Says:

    detikcom buatku sekolah banget. beruntung sekali pernah ngangsu kawruh di sana. hihi jd inget awal2 kerja di lebak bulus, jadi reporter ceritanya. pas off ke bandung mampir ke rumah aki (kakek in sundanese) Ismail Kamil Tanumadja…wafat 2 th yll hiks..saking senengnya punya cucu jd wartawan begitu sampe rumah (jl pajajaran - deket husein airport) aki langsung nyambut dengan pertanyaan, ” kumaha wartawan teh (gmn nih wartawan) udah liputan apa aja gi?, sering pisan yah detikcom mah dipake sama koran teh..(sambil nunjukin koran PR- pikiran rakyat- bacaan wajib pensiunan serdadu itu). “naha gening nama ogi mah engga ada?, ” (kenapa nama kamu ga ada?) - ogi panggilan kecilku di kel besar bandung. “hehe ya ga ada atuh ki,”jawabku singkat. yg pasti aki Ismail selalu cerita tentang cucunya yg jadi wartawan detikcom di setiap arisan pensiunan maupun pengajian. terpaksa deh nyolong2 ngeprint berita2 hasil liputan setiap mau ke bandung lantaran aki mau nunjukin ke temen2nya…sorry ya mas budi..ga sampe 100 lembar kok..
    Sempet juga liputan apec shanghai gara2 jadi tandemnya danang di istana. truss nginep di DPR menjelang gus dur lengser, nongkrongin semaleman suntuk tawuran di berlan, pulang piket ga bs tidur gara2 nyeruput “obat kuat” …hmm ada di meja mas sapto or mas budi ya???.
    nah ini paling serem..pas pertama kali nerima laporan dari reporter terus ga upload2 (waktu itu satunet masih galak, huh!)..siapa yang terima berita X?????!!!! ayo yog..jangan kelamaan!!!! (bayangkan posisi tempat duduk bis..nah suara itu dari posisi supir hehe tempat duduk mas budi)…waduh!!! -mules mode:on-..tp lama2 jd rileks setiap kali terima laporan…belajar banyak deh dari mas budi, terutama gayanya yang nyante itu..aku banyak niru mas di kantor sekarang. ngakak bisa ngamuk jg bisa hehe.
    sok atuh kumpul2 mas budi..sono pisan euy!!

    [Reply]

  • sanggaboy Says:

    Rasanya baru kemarin….
    Ternyata sudah 10 tahun…
    Selamat Ulang Tahun……

    Hidup BDI… Hidup Detikcom….. hidup……

    [Reply]

  • Okto Silaban Says:

    Salam kenal Pak Budi..
    Ahh.. akhirnya turun gunung juga ya, he..he..

    Saya tidak pernah tahu Detik dari dekat, tapi banyak bertemu dan dapat ilmu langsung dari “alumnus - alumnus” Detik.

    Saya rasa semua orang juga setuju kalau anda sudah jadi icon Media Online Indonesia, Pak..

    *walaupun saya sering sekali mengkritik / menyindir Detik di blog saya, itu karena saya ingin melihat Detik bertransformasi menjadi lebih baik.

    Saya tunggu inovasi lainnya dari Detik, Pak.

    Sukses..

    [Reply]

  • pandit Says:

    jadi kangen sama kumisnya BDI.. kaboooooorrrrrrrrr

    [Reply]

  • ariekeren Says:

    Nice sharing!

    However

    Biasalah, kalau sudah ngetop dan kaya, lupa teman, begitu ujar kolega Danang.

    How about him and you who quoted from him ? Have you forgot your friends ?

    [Reply]

  • aldie Says:

    Mas Bud, saya bantu sebutin alumni detikcom dari barisan Desainer…

    1. Honi –> Di Jogja, jadi pengusaha multimedia dan desain
    2. Buang –> Di Jogja juga, jadi pengusaha multimedia dan desain
    3. Sri Rejeki –> Ikut suaminya di Amrik, info terakhir dia sekolah lagi untuk jadi desainer di sana.
    4. Heru Gondrong –> Wiraswasta dan Freelance Desainer
    5 Narto –> Gabung di virtual, bareng Mas Nukman
    6. Deni Pribadi –> Di Semarang, menjadi pelukis Surealis(?) sering pameran.
    7. Bayuadji –> Bekerja di stasiun TV Kuwait, tinggal di sana dengan keluarganya (Uchi dan 2 anaknya)
    8. Boy Avianto –> Dosen Binus dan praktisi multimedia modern
    9. Zaki –> Mendirikan perusahaan IT dengan teman-temannya. Info terakhir dia bekerja di salah satu media di Jakarta
    10. Rudi –> Di Surabaya, menjadi desainer di sebuah perusahaan

    Siapa lagi ya…

    [Reply]

Leave a Reply