Nov 27 2012

Bahasa Inggris Saya Setaraf Steven Gerrard. Sialan!

I Name… Eh Me Name Budiono’, Kata saya. Kontan saja ucapan saya dalam bahasa Inggris itu jadi bahan tertawaan teman-teman saya yang lain. ‘My name’, demikian koreksi Bu Marty Morisson.

Itulah kisah berapa belas tahun lalu, ketika saya berguru Bahasa Inggris dengan Bu Marty. Bu Marty warga Negara Australia. Dia adalah istri mantan Dubes Australia untuk Indonesia, Bill Morisson. Bill kemudian menjadi Menteri Pertahanan Australia.

Hingga saat ini, jika bertemu dengan teman-teman lama saya itu, ‘I name… Me name’ itu selalu menjadi bahan olok-olok. Meski saya tahu, beberapa dari mereka, bahasa Inggrisnya jauh lebih buruk ketimbang saya. Tak apalah.

Nah, dalam sebuah kesempatan saya pergi ke London, saya menginap di rumah sahabat saya, Dalipin. Pada suatu petang, saya menonton wawancara khusus Kapten kesebelasan Liverpool, Steven Gerrard di sebuah stasiun televisi. Gerrard berkali-kali mengatakan ‘Me Mom’ bukannya My Mom untuk menyebut ibunya. Setidaknya 3-4 kali dia mengatakan Me Mom.

Semula saya kira Gerrard salah ucap. Lalu kepada Dalipin saya bertanya, mengapa Gerrard mengatakan Me Mom dan bukannya My Mom. ‘Iya, Gerrard sering kali mengatakan Me Mom’, jawab Dalipin. Dan orang Inggris, menurut Dalipin, paham dengan apa yang dikatakan Gerrard dan tak pernah berusaha mengoreksi Me Mom menjadi My Mom.

Dalipin adalah salah satu saksi mata ketika saya membuat kesalahan dengan mengatakan Me name. “Jadi Pak Budi, bahasa Inggris-mu setarap kan dengan Steven Gerrard”, kata Dalipin terkekeh-kekeh. Sialan!


Nov 14 2012

“Nyonya-Nyonya Istana” Bisakah Saya Menahan Ngakak?

Mas Budi ikut main di pentas “Nyonya-Nyonya Istana ya! ” begitu kata Agus Noor, penulis cerita termasyur di negeri ini, beberapa bulan lalu. Kapan tepatnya saya lupa. Ajakan Agus Noor itu saya iyakan saja. Spontan.

Saya pikir itu hanya guyonan. Bulan demi bulan berlalu. Sampailah sekitar 40 hari lalu, Agus Noor mengirim DM Twitter ke saya. Bunyinya begini: Mas pentas “Nyonya-Nyonya Istana 16-17 Nov 2012 ya. Siap main ya!

Wah! Kaget juga saya dibuatnya. Ternyata Agus Noor serius. Tapi saya tak bisa mundur lagi. Deg-degan? Iya sih. Maklumlah, 30 tahun sudah saya tak pernah lagi main teater. Pertama kali manggung pada 1979 bersama Teater O. Waktu itu kami melakonkan “Setan Dalam Bahaya” Karya Alexander Mesir. Pentas berlangsung di Bojonegoro, Jawa Timur.

Terakhir kali main teater pada 1982, melakonkan “Jubah-Jubah” Karya Gentong HSA di Gedung Senisono Yogyakarta. Pentas ini meramaikan Festival Teater Antarkampus. Hasilnya, saya juara 1. Setelah itu saya berhenti dan tak pernah lagi main teater sampai sekarang ini.

Dalam “Nyonya-Nyonya Istana” produksi “Indonesia Kita” ini adalah debut saya setelah absen puluhan tahun. Campur aduk rasanya. Sutradaranya hebat: Hanung Bramantyo. Pemainnya tak kalah hebat. Ada Butet Kertaradjasa, Marwoto, Susilo Nugroho, Cak Lontong, Trio GAM dll.

Mereka yang saya sebut itu sudah tentu adalah bintang utamanya. Mereka semua aktor-aktor panggung yang hebat. Hampir di semua seri “Indonesia Kita” saya menonton. Dan aksi mereka membuat saya senantiasa ngakak. Ngakak sepuasnya.

Lalu, kalau kemudian saya ikut berada di atas pentas bersama mereka, mampukah saya menahan ngakak? Saya tak mau membayangkan. Ngakak ah, se-ngakak-ngakaknya! Hahahaha ……..


Dec 3 2011

Lahir Sebagai Budiman, Lalu Diubah Jadi Budiono

bayiokeBegitu mbrojol, cenger, oek oekkk, oleh bapak, Darsono, saya dinamai Budiman. Ya Budiman. Budiman tok tanpa embel embel lagi. Sehari kemudian, saya punya nama baru: Budiono. Untungnya, belum sempat selamatan bubur merah. Siapa mengubah nama saya?

Saya dilahirkan pada Subuh, 1 Oktober di rumah sakit Mardi Waluyo di Jl Pandanaran, Semarang. Tahun kelahiran sengaja saya simpan, agar tidak terkesan sudah tuo. Siapa tahu juga nantinya saya akan bikin quiz, yang bisa menebak tahun kelahiran saya dengan benar akan mendapatkan hadiah. Hihihi..!!!

Dan saya, seperti saya sebutkan tadi, mendapat jejuluk: Budiman. Namun nama ini hanya bertahan sehari. Menurut cerita bapak saya, malam hari setelah saya lahir, ia didatangi oleh seseorang. Berbaju putih, rambut dan janggutnya juga putih. Orang tua begitulah. “Gantilah nama anakmu menjadi Budiono,” kata orang tua itu. Orang tua itu menemui bapak saya melalui mimpi.

Dan saat itu juga, bapak saya menjuluki saya: Budiono. “Apa alasan orang tua itu menyuruh mengubah nama saya menjadi Budiono,” tanya saya. “Aku keburu terbangun, sehingga tidak tahu alasannya,” tutur bapak. Ya sudahlah. Maka ketika saya diboyong dari rumah sakit ke sebuah rumah kontrakan di kampung Bulu Magersari gang 1, adalah bayi bernama Budiono dan bukan Budiman.

Nama Budiman itu tentu saja begitu mengingatkan saya pada tiga sahabat saya yang bernama Budiman. Budiman Sudjatmiko. Tokoh PRD yang kini menjadi anggota DPR RI dari PDIP. Budiman Tanuredjo, redaktur pelaksana Harian Kompas. Dan Budiman Hakim, jagoan di bidang periklanan. Ketiganya adalah orang hebat. Jika saya tetap bernama Budiman dan bukan Budiono, akankah saya menjadi orang hebat seperti mereka?


Dec 1 2011

Jurus Ciamik Selesaikan Problem Buah Simalakama

Di makan bapak mati, tidak di makan ibu yang mati. Itulah buah simalakama. Lalu bagaimana agar bapak dan ibu tidak mati?

Gampang. Jual saja buah itu. Beres kan!


Nov 30 2011

Brother Pinjaman Melakoni Honor Rp 200, Makan Tempe 2 Ngaku 1

mesikbrother“Mas malam ini jangan ngetik di kamar ya,” begitu pesan Sony, tetangga kamar saya di kos-kosan di Jl Bausasran, Yogyakarta. “Besok saya ada ujian,” tambah Sony pada suatu petang di pertengahan 1982.

Malam itu saya pindah “kerja”. Kalau saya mengetik di kamar, pasti akan mengganggu Sony. Maklum, kamar kos kami hanya disekat dengan tripleks tipis. Suara mesin ketik merk Brother, akan sangat mengganggu konsentrasi Sony. Sony kuliah di Akademi Keuangan dan Perbankan Yogya yang berkampus di Jl Purwanggan.

Pertengahan 1982 memang menjadi masa awal saya memproduksi tulisan. Bak pabrik, produksi terus digenjot. Setiap malam saya “kerja”. Mesin ketik Brother itu (Foto Ilustrasi diambil dari: indonetwork.co.id) bukan milik saya, tapi milik kakak Sony, Didit namanya, yang sedang menyelesaikan skripsi. Saya meminjamnya dari Didit.

Siang hari saya cari bahan. Malam hari saya menulis. Saya menulis hingga dini hari. Paginya saya setor tulisan-tulisan itu. Dan kemudian mencari bahan tulisan lagi. Bukan berita yang saya cari, tapi kebanyakan bahan-bahan untuk menulis feature alias berita kisah. Hal-hal yang unik, seperti profil orang orang kecil yang menarik. Itu menjadi bahan yang bisa saya jual ke berbagai media. Tidak hanya itu, saya juga menulis puisi, cerpen bahkan resensi buku atau pun pertunjukan teater.

Tulisan saya kerap muncul di Harian Bernas, KR dan Mingguan Eksponen di Yogyakarta. Sesekali muncul di Harian Suara Merdeka Semarang dan Surabaya Post Surabaya. Majalah Sarinah, Zaman juga memuat tulisan saya. Di Mingguan Eskponen, saya sering baca cerpen karya Agus Noor. Bagus-bagus.

Agus Noor kini menjadi salah satu cerpernis hebat di Indonesia. Hampir setiap tahun karyanya selalu terpilih menjadi cerpen pilihan Kompas. Agus begitu konsisten bercerpen dan saya memilih konsisten menulis berita dan berhenti menulis cerpen dan puisi.

Honornya pun bervariasi. Saya masih ingat betul. Sebuah puisi di Bernas, waktu itu diharga Rp 250. Kalau tiga puisi dimuat, Rp 750. Lumayan. Satu cerpen di Eksponen mendatangkan rejeki Rp 500-Rp 750. Sebuah artikel di Suara Merdeka bisa menghasilkan Rp 1.500. Di Surabaya Post Rp 2.000. Media Jakarta memberi honor lebih tinggi, berkisar Rp 2.500 hingga Rp 4.000.

Dalam sebulan, dari hasil menulis, saya bisa mengumpulkan Rp 15.000 - Rp 17.500. Biaya hidup pada waktu itu berkisar Rp 20.000- Rp 22.500. Itu sudah termasuk bayar kos yang Rp 3.500/bulan. Hidup sangat pas bandrol. Tidak jarang, juga tong pes alias kantong kepes. Jika kepepet, seperti biasa, makan tempe dua biji, ngaku satu.


Nov 29 2011

Sperma Ikan Gindara itu Uenak Lho

spermaikangindaraMakan ikan Gindara boleh jadi Anda sudah terbiasa. Bagaimana dengan sperma ikan Gindara? Nah itu baru luar biasa. Bentuknya mirip usus. Mirip juga dengan tampilan otak sapi di rumah makan Padang. Di lidah terasa sangat lembut. Rasanya lezaat buangettt. Jangan tanya harganya. Berapa?

Menu sperma ikan Gindara itu adanya di Tatemukai Japanese Fine Dining. Restoran ini berlokasi di Grand Indonesia lantai 3A. Di Tatemukai tak perlu menu lagi. Ada tinggal duduk manis, makanan akan langsung tersaji. Satu per satu sajian bisa Anda santap. Mengalir. Harganya sudah dalam satu paket.

Hampir sebagian besar yang disajikan adalah sashimi. Sashimi berbagai ikan. Kualitas ikannya, nomor satu. Segar. Sashimi itu langsung di potong di depan kita. Nah, sperma ikan Gindara, terkadang ada terkadang tidak ada. Tergantung musim. Sperma ikan (lihat foto) berasal dari ikan Gindara sebesar 60 kg. Gede gitu.

Lezatnya sperma ikan Gindara memang luar biasa. Terus terang saya tidak bisa memberi padanannya. Saya empat kali makan di Tatemukai, hanya dua kali pas ada sperma ikan Gindara. ke-4 kali saya makan di Tatemukai, semuanya ditraktir teman. Saya sangat beruntung. Kalau bayar sendiri, sepertinya saya akan berpikir berkali-kali lipat, mengingat tarifnya yang sangat mahal itu.

Percayalah, sperma ikan Gindara itu rasanya luar biasa lezat. Lezat bukan karena saya makan gratisan lho! Kalau tak percaya, cobalah sendiri. Siapkan Rp 2 juta per orang. Ada kan? Apakah perempuan boleh memakan sperma ikan Gindara? Oh sudah barang tentu boleh. Aman kok! Dijamin tidak menyebabkan kehamilan. Hihihi


Nov 28 2011

Dari Cak Gundul Menggigit Kepiting Jimbaran BSD 3,2 Kg

kepitingpapua1Mari kita bicara soal kepiting. Hmmm….!!! Belum-belum sudah menelan ludah. Kelezatan daging dari binatang yang bernampilan purba ini memang tak terlupakan. Ada kepiting Prima ada pula kepiting Cak Gundul. Yang di Pasar Modern BSD sungguh menggoda. Apalagi pas yang bobotnya 3,2 Kg.

Beberapa tahun lalu, kepiting Prima, yang restonya di Comal, Pekalongan, Jawa Tengah, bak primadona dalam urusan kepiting. Pada hari biasa saja, antrean begitu panjang. Apalagi pas hari libur. Di Hari Lebaran, jangan tanya lagi. Butuh ekstra kesabaran.

Belakangan ini, Kepiting Cak Gundul mulai ngetop. Berawal dari warungnya di kawasan Pandaan, Jawa Timur. Kepiting Cak Gundul kini sudah buka cabang di Surabaya. Di Jakarta Cak Gundul mejeng di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kepiting Cak Gundul berbobot 7 Ons hingga 15 Ons. Cukup besar. Manis dagingnya. Yang spesial adalah kepiting direbus biasa, kemudian makannya dicocol sambel terasi. Hmmm uenakkk polll.

Dari Kepiting Cak Gundul, mampirlah ke Kepiting Warung Jimbaran BSD, Tangerang Selatan. Ini warung tenda biasa, bukan restoran. Buka mulai pukul 18.00 WIB. Lokasinya di parkiran Pasar Modern BSD. Warung kepiting Jimbaran dikelola Ibu Ike. Kepitingnya dipasok dari Papua.

kepitingpapua2Bobotnya? Wuihhh setidaknya 2,4 Kg hingga 3,3 Kh. Buesarrr. Kepiting lada hitam jadi andalan. Daging kepiting Papua itu, meski tidak berbumbu pun manis. Lihatlah foto dalam tulisan ini. Kepiting dalam foto itu bobotnya 3,2 Kg. Nampak sedemikian besar dibanding tangan anak cowokku yang berusia 21 tahun.

Capit kepiting itu, idiiih guede juga. Bayangkan saja kelezatannya. Jangan membayangkan kepiting itu hidup dan mencapit tangan Anda. Dijamin bukan kelezatan tapi kesakitan yang bakal Anda rasanya. Jadi, mari kita makan kepiting Papua saja. Hmmmm lezatnyaaa …!!!!!